Tin.. tin...tin..
Sangat keras putra membunyikan klakson mobilnya. Aku melihat seorang wanita paruh baya bergegas keluar , menjinjing rok yang ia pakai agar mudah melangkah, dan membuka gerbang rumah itu. Halaman yang indah, taman yang hijau, inikah rumahnya?
“makasih bik, umi ada kan?,” lontar putra kepada wanita itu, mungkin dia pembantu dirumah ini, atau saudaranya.
“ iya mas, ayo monggo. Sudah ditunggu ibu dari kemaren. Eh, itu ya mbak calonnya mas?,” celoteh wanita itu. Lalu aku berfikir, calon? apa maksutnya? Aku hanya bisa membalas senyum kepada wanita itu, sembari menganggukan kepala.
“ monggo bik,” jawab putra, bergegas dia meyetir mobil masuk ke halaman depan. Hatiku risau, otakku berfikir keras, apa maksut ucapan wanita tadi.
******
Jujur, aku tak berani masuk. Aku sadar, aku dan putra hanya teman dekat yang baru kenal, tapi kenapa aku merasa ini sudah mendekati keseriusan? Aku ingin marah, menangis, aku takut. Aku tau, selama 1 bulan ini putra sangat baik, benar- benar menjagaku. Apapun yang kuminta, pasti dia beri, pasti dituruti. Ucapan sayang dan cinta sudah berkali- kali diucapkannya, aku hening belum bisa menjawabnya. Namun sepertinya ia tak patah ara, setiap hari sayang dan cintanya memasuki hatiku. Jujur, namun aku belum bisa menjawab iya atau tidak. Seperti ruangan kosong yang tak ber penghuni, lalu dia masuk, dan membersihkan ruangan yang kotor yang berdebu itu, sampai menjadi ruangan yang nyaman untuk ditempati. Yah, ruangan itu aku, dan penghuni baru itu putra. Aku menyayanginya.
“Sayang?,” dia memecahkan lamunanku, memegang pipiku dengan lembut.
“iya, sorry.” jawabku kaget, dia membuka kan pintu mobil, menggandengku masuk ke rumah. Aku melihat sepasang suami istri duduk di ruang tamu itu, mereka tersenyum ramah, menyambut kami datang. Aku tersenyum. Sambil tetap menggandeng tanganku, putra memperkenalkanku pada pasangan suami istri itu, mereka orang tua putra.
“asslamualaikum,” ucap putra.
“ waalaikum salam, akhirnya datang juga kalian, ayo monggo masuk,” ucap abah. Kami bersalaman dengan mereka, ummi memelukku, mencium keningku sangat tulus.
“duduk dulu sayang,” ucap putra mempersilahkanku.
Sambil terus memberi senyuman kepada mereka, aku belum berani berkata. Kami bercerita, dan mereka bertanya sangat banyak tentang kehidupanku. Orang tua, kuliah, sahabat, dan lain sebagainnya. Begitupula sebaliknya, Putra anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya teman sekelasku, Ari namanya. Bathinku, seperti tes interview saja, aku meringis dalam hati. Hingga pada akhirnya..
“ kalian cocok,” tutur ummi. Aku kaget sekali mendengar ucapan ummi, aku hanya tersenyum dan menunduk. Putra menggenggam tanganku lagi, memastikan orang tuanya bahwa kami memang sangat cocok. Keringat pun mengalir dibalik jilbab ungu yang ku kenakan, aku grogi.
Setelah bincang- bincang singkat itu, bik ani mengantarku ke kamar tamu. Putra mengajak menginap semalam dirumahnya, agar lebih mengenal suasana rumah jelasnya. Aku turuti permintaannya, lagi pula selama ini dia sangat baik kepadaku. Besok sore kami kembali ke Malang, kota tempat dia bekerja, dan kota tempatku kuliah.
*******
Hawa malam disini tak sedingin di Malang, hangat. Kubuka jendela kamar, sangat sepi diluar sana. Aku hanya mendengar suara musik, samar- samar, mungkin dari ruang tengah. Aku masih sangat enggan untuk menampakkan diri di rumah ini, ku habiskan waktu sehari hanya dikamar ini. Tiba- tiba ponselku berbunyi.... kring.. kring.. Segera kuangkat, putra menelpon, ada apa? padahal kamar kami bersebelahan.
“ Na, keluar yuk?,” pintanya manja.
“ kemana?,” sambil ku lihat jam tanganku, ternyata baru jam 7 malam. Aku menurutinya. Kami keluar, jalan- jalan. Kebetulan ada pasar malam, kami pun kesana. Bermain komedi putar, makan harum manis, dan berbelanja aksesoris. Senang sekali, sudah lama aku tak berkunjung ke tempat seperti ini. Terakhir kali kelas 6 SD dulu, sudah 9 tahun.
“ aku senang put,” teriakku, suaraku samar, terkalahkan oleh suara- suara musik disekitar tempat ini.
“ aku juga senang sayang,” teriaknya, dia menggenggam tanganku, mengusap kepalaku.
Kami berjalan- jalan, bertemu banyak orang, sepertinya putra mengenali mereka.
“ putra, kapan datang?” tanya seorag pria, mungkin tetangga atau teman sekolahnya.
“ tadi siang boy, tambah keren aja loe !” celetuk putra, aku hanya diam , memberi senyuman kepada pria itu.
“ halah elu, siape ni? calon ya?”
“ iya, kenalin. Ini calon gue, nana.” celetuk putra. Aku pun menjabat tangan pria tersebut, “nana,” aku tersenyum lagi.
Putra berbincang sebentar dengan pria itu, aku berlalu, berjalan melihat- lihat boneka yang terpajang. Lucu- lucu, walaupun aku sudah sebesar ini, aku masih suka mengkoleksi boneka, maklum pengaruh anak tunggal yang identik dimanja. Banyak sekali boneka dikamarku, aku ingin membelinya lagi.
Sempat kupegang boneka berbulu lembut ini, lucu.
“Sayang?” putra mengagetkanku lagi. Dia membawa boneka , persis seperti yang aku inginkan tadi.
“iya, ngagetin ah,” jawabku ketus.
“buat kamu,” dia menyodorkan boneka itu, aku senang, sangat senang.
Sepertinya sudah sangat malam, putra takut aku kelelahan lagi, dia mengajakku pulang ke rumahnya. Aku heran kenapa dijalan ini terasa sangat dingin, nafasku sesak, padahal kami mengendarai mobil. Tuhan, aku ingat, penyakit asmaku. Segera kuraih tas di kursi belakang, mencari inhaler yang sudah kupersiapkan ketika aku akan keluar malam.
“ cari apa sayang?,” tanya putra heran, aku pun menggelengkan kepala, menahan rasa sesak, dan tanganku terus merogoh- rogoh isi tasku, akhirnya ketemu. Segera kusemprotkan kedalam mulut, ah lega sekali.
Ciiiiiiiiiiiiiittt... putra menghentikan mobilnya, dia khawatir, memelukku.
“sayang, sakit?” tanyanya bingung.
“ enggak sayang, I am fine,” jawabku mengelengkan kepala. Aku memanggilnya sayang, yah, aku juga menyayanginya. Dia mengusap kepalaku, aku melihat matanya, dia khawatir.
“ jalan lagi yuk? biar cepat sampai rumah,” rayu ku menenangkannya, isyarat, aku tak apa- apa. Pelan dia menyetir, masih menggenggam tanganku.
******
Pagi ini aku packing, jam 8 kami kembali ke kota Malang. Aku keluar kamar. Melihat ummi memasak didapur, aku membantunya. Kami berbincang panjang dan bercanda. Ummi tak punya anak perempuan, sepertinya ummi sangat menyukaiku. Pipiku sering terkena cubitan sayangnya, lalu kami tertawa lagi.
“ Nana, tolong jagain Putra ya? Walaupun sudah besar begitu, dia paling susah kalau disuruh makan,” ucap umi, sembari memotong kentang.
“ hmm,, iya ummi, insya Allah,” jawabku meng-iyakan. Sebenarnya aku belum faham betul kepribadian putra, kebiasaan, dan kesukaannya apa. Aku belum ingin tau, tepatnya. Dengan jawaban ini, ummi terlihat lega dan tersenyum.
******
Jam 8 tepat kami berpamitan, seperti biasa umi mencium keningku, mentapku berharap akan mampir kerumah ini lagi, dan menjadi keluarga disini. Aku haru. Aku juga bersalaman dengan abi, tatapannya sama persis dengan ummi. Kemudian, putra menggandengku masuk mobil, aku menurutinya.
Aku mengerti, orangtua putra mungkin mengharapkan putra untuk cepat- cepat menikah. Namun aku masih bingung, mengapa aku yang dipilihnya, padahal kami baru dekat sekitar 1 atau 2 bulan. Aku juga sadar, aku masih kuliah semster akhir. Aku harus fokus pada skripsi, pekerjaan, dan organisasiku. Belum terfikirkan duduk diatas singgasana pengantin. Aku juga sudah janji kepada orang tuaku, aku akan menikah setelah bekerja.
“sayang, kok ngelamun?” tanya putra, sembari menyetir mobil.
“hah, enggak kok. Ganggu khayalanku aja,” jawabku ketus.
“ hayoo? menghayal apa emangnya?”
“rahasia dong,” aku meringis, berteriak, dia mencubit pipiku, sakitnya.
Selama perjalan itu, kami terus bercanda. Sesekali dia mencubit pipiku lagi, lalu aku memakinya. Begitu seterusnya. Namun, kelihatannya kondisi tubuh tak pernah bisa diajak kompromi, kepalaku pusing sekali. Entah kenapa, disaat aku senang seperti ini, tubuhku berontak. Aku sakit.
Memang penyakit Leukimia ini sudah menghampiriku sekitar 5 tahun lalu, ketika aku kelas 1 SMA. Mulai saat itu, aku disarankan untuk tidak melakukan banyak kegiatan. Namun, aku sering melanggarnya. Aku bosan berdiam diri, aku percaya tuhan. Kematian ada ditangan-Nya. Minimal aku sudah berusaha mengisi kehidupanku dengan berbagai hal- hal yang bermanfaat untuk orang lain. Hanya itu.
Aku ingin merintih, tapi aku tak ingin membuat putra khawatir.Sangat pusing, hidungku sepertinya berair, ku usap perlahan. Ya Tuhan, aku mimisan.
Ciiiiiiiiiiiiit...
Putra mengerem mobil mendadak, mengeluarkan sapu tangannya, lalu mengusap darah yang mengalir ini. Aku tau, dia terlihat panik.
“Sayang, sakit lagi? ke rumah sakit yah?” tawarnya halus, sembari menyeka darah yang terus keluar. Aku hanya bisa menggelengkan kepala, sangat pusing. Aku tak tau, sampai kapan aku merepotkan putra dengan penyakitku ini? Aku belum siap menceritakannya. Aku tak tega.
Bersambung......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar