Jumat, 02 September 2011

Maaf, aku mencintainya (part II)



     Matahari di ufuk barat sudah tak nampak lagi, adzan magrib menyeru betapa merdunya, aku lelah. Perjalanan dari kota ke rumah orang tua putra sekitar 5 jam, padahal aku hanya duduk diam dimobil. Hatiku tak karuan, kali ini kami mampir ke masjid Agung dulu, sholat magrib. Rasanya aku sudah lemas, selesai sholat aku tak kuat untuk berjalan, berdiri pun susah. Rasanya banyak sekali kunang- kunang berterbangan dimataku ini, ah pusing seperti ada gempa saja.
Bruuuuk...!!!! Aku pingsan, hanya mendengar langkah jama’ah putri menghampiriku yang sudah tak berdaya, setelah itu aku tak tau apa- apa lagi.
“alhamdulilah,” aku mendengar suara putra, kucoba membuka kelopak mata, berat rasanya, sakit sekali. Aku masih belum mampu mengeluarkan suara, sakit. Banyak sekali pertanyaan di otakku ini, dimana aku? Hidungku serasa ditusuk garpu saja, bau obat dimana- mana, aku benci.
“dimana aku?” kucoba mengeluarkan suara.
“ dirumah sakit, na. Maaf, aku membuatmu lelah sampai kamu sakit seperti ini, maaf,” berkali- kali putra mengucap maaf, namun aku rasa dia bukan penyebabnya.
“ oh, ayo pulang saja. Aku sudah tak apa,” kucoba bangun, tapi aku jatuh lagi. Masih sangat terasa, waktu itu putra menggendongku, aku payah.
“ sudah na, jangan dipaksa. Aku akan menjagamu.” jawabnya menenangkanku, aku tertidur.
*******
     Kudengar bising ambulance, langkah orang kesana- kemari. Aku bangun, putra masih menggenggam tanganku, dia masih tertidur dikursi samping ranjangku, merebahkan kepalanya saja diranjang. Aku merasa kasihan, yah aku merepotkannya. Aku usap kepalanya pelan, namun aku tak tega membangunkannya, dia terlihat lelah, sangat lelah.
“ eh Na, sorry. Kamu udah sadar?,” putra bangun, dia menggenggam tanganku lagi.
“ alhamdulilah, bangun put. Sholat shubuh.” lontar ku, sembari mengangkat kepala dan bangun.
“ iya sayang,” ucapnya. Tersenyum manis dan berlalu meninggalkan ku sendiri di ruangan itu. Dia memanggilku sayang, “ah, jangan besar kepala dulu,” bisikku dalam hati.
     Sangat sepi diruangan ini sendiri, bau obat- obat ini lama- lama bisa membuatku mati, pusing sekali. Kucoba mengangkat tubuh, aku bisa. Mencari kursi roda, karena aku belum bisa berjalan sendiri, masih pusing sekali. Taman diluar sana indah, aku ingin kesana.
*******
     Sangat ramai di taman ini, namun damai dan nyaman. Angin segar, bunga yang indah, aku suka. Aku baru teringat Leukimia yang kuderita, jangan- jangan? Aku risau, aku takut putra mengetahuinya.
“sayang,” seseorang menepuk bahuku.
“putra,” ku jawab simple, ku beri dia senyuman.
“ kata dokter hari ini sudah boleh pulang kok. Nanti jam 10, siap- siap yuk? nanti langsung ke rumah Abah sama Umi, mereka sudah menunggu kita,” paparnya. Aku sedikit lega, sepertinya ini bukan gara- gara leukimia, atau dia berpura- pura tak tau? Kami pun bergegas meninggalkan taman, segera bersiap, dia membantuku.
     Setelah packing, kami bergegas menuju rumah orang tua putra. Sngat baik, selama perjalanan putra menghiburku, aku senang.
bersambung......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar