Jumat, 02 September 2011

Maaf, aku mencintainya (Part 1)


"Maaf, aku belum bisa menerima pinangan mu", jawabku singkat. Yah, malam itu seorah pria mapan datang ke rumah, melamar, dan mengajak kepada kebaikan (menikah). Dia pria sempurna, tampan, mapan, berilmu, dan dari keluarga baik- baik. Namun, aku baru mengenalnya sekitar 2 bulan lalu. Ceritanya sangat panjang dan rumit, biarkan aku bercerita.
Putra, begitulah sapaan pria itu. Kami bertemu 1 bulan yang lalu, dari salah satu rekanku yang kebetulan saudara kandungnya. Kami dipertemukan disebuah seminar nasional di kota tempatku kuliah. Kini aku baru semester 5, namun pria itu sudah sangat mapan, dan baik. Kami berjabat tangan, dan aku masih ingat betul bagaimana kalimatnya ketika berkenalan, " putra ganteng," sapanya memperkenalkan diri,
"nana," jawabku singkat sembari tertawa kecil melihat tingkah kocaknya.
Lalu kami berbincang – bincang kecil, dia sering membuatku tertawa terbahak. Aku bercerita masalah organisasi dan kuliah, sedangkan dia bercerita tentang dunia kerjanya yang sangat “nyaman” itu. Baru 3 jam kami berbincang, serasa sudah 2 bulan kita kenal, sangat akrab, dan nyaman.
     “Na, aku pamit pulang dulu, aku minta nomor hape boleh kan?”, tanya putra sembari menggaruk kepala, terlihat sungkan.
     “Oh, iya put.” aku pun menyodorkan kartu nama, lalu kami berpisah.
*****
     Seperti biasa , aku menghabiskan waktuku untuk kuliah, organisasi, dan kerja partime dikampus. Rasa lelah dan penat dengan kesibukan sering terjadi, tapi inilah hidup. Aku juga sadar, pasti kehidupan setelah kuliah akan lebih keras dari pada kehidupanku yang sekarang. Sambil menenangkan fikiran, aku nyalakan televisi di kamar kosku.
Kring.. kring.. kring..
ponselku berbunyi, aku kaget dan lamunanku pecah begitu saja. Kulihat layar ponsel tak ada nama, “siapa?”, tanyaku dalam hati dan segera ku pencet tombol hijau.
“assalamualaikum?,”
“waalaikum salama, nana,” jawabnya. Dia tau namaku dan ini suara pria yang sepertinya aku kenal, aku penasaran.
“siapa,maaf,”
“kenalin, putra ganteng,” jawabnya. Ternyata putra, teman seminar kemarin, aku pun langsung ngakak, dan kami-pun bercanda lewat telepon itu.
     Selesai percakapan itu aku berfikir, siapa dia? sehingga membuatku galau seperti ini. Yah, putra dia mengajak ku kerumah orang tuanya besok. Susah payah aku membuang pikiran negatif yang melekat diotakku ini, namun tak kunjung pecah juga. Sekuat hati aku menidurkan perasaan, tapi tetap saja galau, aku takut.
******
     Esoknya putra menjemputku dikampus, tepat jam 10 pagi. Aku baru saja menyelesaikan ujian salah satu mata kuliah, otak ku masih terasa capek. Aku juga belum mempersiapkan apapun untuk menyapa keluarga teman baruku, putra. Aku buka siapa- siapa, hanya teman baru yang bertemu 1 minggu lalu disebuah seminar itu. “Ah, mungkin saja dirumahnya ada acara, lalu aku diundang,” fikirku menenangkan diri.
     Dia datang, memecahkan suasana hati yang berkecamuk ketakutan ini. Sepertinya dia menegrti aku yang ada di otakku ini. Tingkah konyol itu terlihat lagi, kami bercanda di dalam mobil. Sampai dia mungkin ter-ceplos bertanya, “na, punya pacar?”, aku kaget dan diam, yah, kucawab dengan senyuman, dia faham. Kami terdiam sejenak, lalu dia melontarkan, “ namanya juga anak muda na, have fun, dan bersaing! haha,” di tertawa, apa maksutnya? Aku bingung. Aku hanya takut dia salah menafsirkan senyumanku.
 bersambung..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar