Jumat, 02 September 2011

Indahnya Bersyukur

Sore itu, aku duduk terdiam menikmati suasana tegal dibelakang kampung halaman Ayahku. Sangat sejuk, indah, dan tentram. Tak seperti rumahku, bising, hiruk pikuk,  ramai, dan yang disayangkan manusia sebanyak itu tak satupun yang mengenal satu sama lain, yah, individualisme tinggi, maklum orang sibuk yang tak akan membiarkan waktunya terbuang hanya untuk menyapa tetangganya. Berbeda sekali dengan keadaan disini, suasana yang asri, manusia-nya pun ramah- ramah, baru 3 hari aku tinggal disini, tapi mereka setiap pagi selalu memberi senyuman ikhlas dan sapaan hangat " monggo mbak",( jawa.red).
Kupandang jauh padang hijau yang luas itu, seakan diri semakin dekat dengan tuhan, menikmati indah ciptaan-Nya. Terasa seseorang menepuk bahu kananku, " nduk..!", sepertinya aku kenal suara itu, yah suara ayahku. "Dalem yah?," jawabku. Lalu beliau duduk disampingku dan bercerita tentang masa kecilnya. 
Ayahku dulu tinggal dikampung ini, kakek ku seorang guru ngaji dan petani desa, begitu pula dengan nenekku. Masa kecil ayahku terbilang sangat keras kehidupannya, selain sekolah beliau juga ikut membantu kakek dan nenek bekerja disawah, beliau juga seorang penggembala kambing. Sekolah dari rumah-pun ditempuhnya berjalan kaki, padahal jarak rumah ke sekolah belasan kilometer. Lalu sore hari sepulang sekolah, waktu dihabiskannya untuk menggembala kambing dan malam harinya beliau habiskan untuk membantu kakek mengajar ngaji dan belajar. Ayahku juga bukan anak tunggal, masih ada 6 saudara yang beliau sayang, mereka saling berbagi dalam masalah apapun. Saking banyaknya kisah yang diceritakan ayah, sampai aku tak bisa menungkapkannya pada ceritaku ini.
Intinya semua sangat berbanding terbalik dengan keadaan yang sekarang. Dulu ayahku hidup sangat susah, tapi ayah dan keluarga selalu menanamkan rasa syukur kepada Allah," bisa menghirup oksigen gratis ini, alhamdulilah," terang ayah; berbeda dengan sekarang, ayahku menjadi makhluk Allah yang sukses dan rendah hati.
Jika aku bandingkan masa kecilku dengan masa kecil ayah, subhanallah sangat berbeda. Seharusnya aku harus lebih bersyukur, memiliki orang tua yang sangat menyayangiku, memiliki harta yang sangat cukup, dan memiliki kawan- kawan yang baik. Sampai saat ini, ayah selalu mengingatkanku," bersyukurlah jangan bersyukur setelah mendapat nikmat saja, karena nikmat akan menghampirimu ketika kamu selalu bersyukur." Indahnya bersyukur.

 وَا شْكُرُوْ نِعْمَةَ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

Dan bersyukurlah kamu atas nikmat Allah, jika memang kamu hanya menyembah kepada-Ku ( An Nahl :114)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar