Sepanjang perjalanan ke Malang, putra sesekali memandang wajahku, dia khawatir. Sedangkan aku, menahan rasa pusing, sesekali juga aku tersenyum padanya. Aku mengantuk, tertidur.
******
Tak terasa, kami sudah didepan kos ku.
“ sudah bangun, sayang?” tanya putra sembari mengusap kepalaku.
“ sudah, kok aku nggak dibangunin?” tanyaku masih mengantuk.
“ aku suka, lihat kamu tidur. Cantik,”
“ ah, gombal banget. Udah ah, masuk dulu yah?” jawabku ketus.
“Iya, sayang. Makasih yah? Istirahat,” serunya.
“ iya, iya. Assalamualaikum”
“Wa alaikumsalam,” dia menjawab salamku, aku turun dari mobil, dia pun berlalu.
*****
1 Tahun kemudian..
Selama satu tahun, putra menemaniku. Aku terlanjur sayang padanya, namun sangat sulit untuk menumbuhkan rasa cinta, yah tepatnya aku belum bisa mencintainya. Kata orang jawa, trisno jalaran soko kulino, cinta itu ada karena terbiasa. Tapi kenapa aku belum bisa merasakan hal yang sama.
Kini, aku telah lulus kuliah. Aku bekerja disalah satu perusahaan ternama diJakarta. Lebih tepatnya lagi, aku dan putra sudah terpisah selama 6 bulan ini, Long Distance Relathionship. Namun, hubungan kami malah semakin dekat dan membaik. Hampir setiap jam dia menelponku, menasehati, “jangan bekerja terlalu sibuk sayang, nanti sakit.” begitulah, aku belum bisa mencintainya.
Di Jakarta ini, aku bekerja dan satu kantor dengan teman lamaku, Zaky namanya. Dulu, aku dan Zaky pernah sekolah di satu SMA. Kami pernah memiliki hubungan khusus, lebih tepatnya dia mantan pacarku. Namun, aku sudah melupakannya, rasa yang dulu ada padanya sudah hilang. Aku sudah biasa.
Namun, selama 6 bulan aku 1 kantor dengannya. Sepertinya dia masih ingin kembali kepadaku seperti beberapa tahun silam. Berkali- kali dia membicarakan masalah hubungan kami yang sudah kandas, karena kesalahannya sendiri. Dia berpaling dengan sahabatku sendiri, hancur sekali waktu itu. Dia berjanji tak akan membuatku menangis lagi, aku melihat matanya betul. Dia tulus. Namun, aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, aku tak akan kembali. Itu janjiku dulu.
****
Pagi ini, aku berencana untuk pulang ke Malang, bertemu orangtuaku, dan putra tentunya. Aku masih bingung, hubunganku dengan putra ini bukan apa- apa, tak ada status berpacaran, tunangan, atau menikah. Kami berteman, dan teman tapi mesra, yah seperti lagu saja.
kriing.. kring..kring.. telponku berdering, segera kuangkat. Nama Zaky, dia menelponku.
“ assalamualaikum?”
“ wa alaikumsalam,” jawabnya.
“ada apa mas?” tanyaku, aku terbiasa memanggilnya “mas” karena dulu dia kakak kelasku.
“ katanya mau pulang keMalang na?” tanya nya.
“iya mas, kenapa?”
“Bareng yuk? Aku juga mau pulang.” ajaknya.
“ tapi mas, aku sudah pesan tiket,” bujukku, padahal aku belum memsan tiket.
“ ah, ga papa. Nanti aku ganti. Please, bareng ya? kan lebih aman naik mobil na.” rayunya.
“ baiklah, jam 9 aku sudah siap.”
“oke na,” tut tut tut... dia menutup telpon. Aku kembali merapikan pakaian. Lalu merapikan jilbab yang kukenakan, “sangat panas disini,” gumanku.
Kring.. kring.. poselku berbunyi lagi.. Kali ini putra.
“ asaalamualikum”
“walaikum salam. Sayang sudah berangkat?” tanya nya.
“ belum, nanti jam 9,”
“ jadi naik pesawat ato bus?”
“aku di barengi teman put. Dia temen kantorku, katanya sekalian pulang juga,”
“oh, siapa?”
“ Zaky put, temen SMA dulu,” jawabku.
“ jadi naik mobil?” tanya nya penasaran.
“iya sayang,” jawabku halus menenangkannya.
“oh ya sudah, hati- hati sayang. aku tunggu”, seru nya. Lalu dia menutup telponnya.
Sudah jam 9, kelihatannya Zaky sudah menungguku diluar. Kami pun berangkat.
*****
Sangat lelah, perjalanan hampir 2 hari. Seperti biasa, aku sakit. sudah 2 hari dirumah namun aku belum menemui putra dan kawan- kawan lamaku. Masih belum sanggup berdiri. Sampai pada suatu hari, putra menelponku. Dia ingin menjengukku, Aku tak bisa menolak permintaannya. Aku meng iyakan.
Sedangkan Zaky, hampir setiap hari dia mengunjungiku dirumah, dia tau, aku mengidap penyakit leukimia dari SMA. Sebenarnya aku tak nyaman, dia mengunjungiku setiap hari. Kalau sampai putra tau, pasti dia kecewa. Tapi, aku juga tak bisa berbicara “tidak atau jangan”. Kepada siapapun. Mimisan juga tak henti keluar dari lubang hidung ku ini. Aku tak panik lagi. Ini sudah biasa.
******
Heri ini, hari yang paling menakutkan bagiku. Putra akan kesini. Aku sempat menyesal, membiarkannya datang. Tapi, aku paling tak bisa berucapa “iya atao jangan” kepada orang lain. Terserah, lihat nanti saja. Aku belum mencintainya, aku takut putra akan sakit hati.
****
Putra datang, apa? Dia membawa orangtuanya, membawa bawaan yang sangat banyak. Aku biasa melihat ini, ketika teman atau keluargaku dilamar pria. Apakah aku akan dilamarnya? Aku takut. Aku masih dikamar, belum mempersiapkan apapun. Mamaku mengetuk pintu.
“sayang, Nana. Diluar ada tamu, ayo keluar nak<” teriak mama dari luar kamar.
“Ma masuk aja, aku pusing,” pintaku. Mama pun segera masuk kamar, menuntunku mempersiapkan diri, gantai baju, dan mengenakan jilbab hijau.
“Kamu masih sakit sayang?” tanya mama
“ tinggal pusing doang ma,” bujuk ku
Aku keluar kamar, aku melihat putra, ummi ,dan abi duduk disofa. Mereka tersenyum tapi heran. Aku melihat mata mereka, persis ingin menanyakan sesuatu “ kamu sakit?”. Aku meihat putra, dia terlihat lebih bersih, setelah 6 bulan tak bertemu. Aku melihat, rindu dimatanya. “Aku juga rindu,” batinku.
“assalamualaikum,” aku menyapa mereka. Sembari duduk, mama membantuku. Hari ini papaku ada dinas diluar kota, jadi mama lah yang membantuku hari ini.
“ waalaikum salam,” jawab mereka.
“Ummi, abi, putra, bagaimana kabarnya?” tanyaku, mencairkan suasana.
“ alhamdulilah baik nak,kamu sakit?” tanya abi. Lalu mamaku menyahut pertanyaan , mama menceritakan segalanya. Aku mengidap penyakit leukimia sejak SMA. Aku ingin menangis, tapi aku tak ingin membuat suasana ini haru. Aku melihat putra, mata nya sendu, seperti ingin memelukku. Aku hanya bisa mendunduk, sakit.
Lalu, abi mencairkan suasana, mengajak kami bercanda. Tak lama papa datang, mereka saling berekenalan. Lalu berbincang, membicarakan tujuan mereka datang kerumahku. Aku sangat grogi, aku takut. Ternyata benar dugaanku. Dia melamarku.
“ kalau, itu teserah anak saya saja pak.” ujar papaku, sembari menatapku. Berharap menjawab “iya atau tidak”. Aku diam. Aku melihat putra lagi, dia berharap menjawab “iya”.
"Maaf, aku belum bisa menerima pinangan mu", jawabku singkat. Aku pusing, kunang- kunang berterbangan, gelap. Aku pingsan.
Sepertinya, Leukimia ini semakin menyerang tubuhku saja. Aku dilarikan disebuah rumah, penuh obat, aku membenci ini. Yah, aku dilarikan ke rumah sakit. Aku tak sadar.
“ Mama,” aku merintih. Kulihat samar, Orangtuaku menangis, aku anak tunggal mereka, aku harus bertahan. Kulihat disamping kananku, putra. Dia menangis, aku tak tega. Dia menggenggam tanganku kuat- kuat. Mamaku mengusap kepalaku, dia juga menangis.
“ aku tak apa,” kucoba membuka mulut, tersenyum, menenangkan mereka. Aku berusaha bangun dari ranjang sakit ini, aku belum kuat. Masih terasa pusing.
“ sayang, harus kuat ya?,” pinta putra, wajahnya melas sekali, aku tak tega. Kulihat disofa samping ranjangku, Zaky juga ada disini. Dia hanya menunduk pilu. Tuhan, aku semakin sakit hati melihat mereka menangis. Aku harus kuat. Dadaku sesak, kenapa penyakit ini semua datang disaat yang tak tepat ini. Tuhan, tolong aku.
Aku baru saja menolak pinangan putra, tapi mengapa dia masih kemari? mengapa dia tak membenciku. Tuhan, jangan biarkan aku mencintainya. Aku kasiha, galau, dan bimbang.
Sementara ku lihat Zaky, dia masih menunduk. Aku tak kuasa memanggil namanya, benar- benar kasihan. Aku pusing sekali. Kupejamkan mata, darah keluar dari hidungku lagi. Sangat sakit rasanya, mama berteriak memanggil dokter, aku mendengarnya samar- samar. Tangan dingin itu mengenggam tanganku, yah putra. Aku bisa merasaknnya. Aki pingsan lagi.
*****
“mama,” aku rindu mama.
“ iya sayang, alhamdulilah kamu siuman,” ujar mama. Aku berusaha membuka mata, kulihat sekelilingku. Hanya ada mama, dan seorang pria, Zaky. Aku tersenyum padanya. Dia datang, dan mengenggam tanganku.
“ Nana, sudah sadar?’ tanya zaky.
“ iya,” tak ada gairah menjawab pertanyaannya.
“ Na, I love u,” ujar zaky, mamaku keluar ruangan, membiarkan kami berbincang. Aku malas berkata. Dimana putra.
“ bertahan ya Na?,” ujar nya lagi.
“ Maaf, aku mencintainya.” singkat ku ucap hari itu. Aku tau, sangat sakit. Zaky pun berlalu, meninggalkanku sendiri di ruangan ini.Aku tau, dia mengerti apa maksut ucapanku.
Aku tak mau memperpanjang beban fikiranku lagi. Aku putuskan, aku mencintai putra. Aku ingin bertemu dengannya.
*****
Seperti biasa, ketika pagi di rumah obat ini, aku mendengar suara ambulance dan roda yang hilir mudik, bingung. Namun, aku merasa kondisi tubuhku membaik. Papa dan Mama menyapaku,
“selamat pagi, sunshines,” ujar mama papa. Aku tersenyum. Itu sapaan yang biasa diucapkan putra, ketika menelponku dipagi hari.
“ma, pulang ma,” aku merengek, benar- benar tak betah ditempat ini.
“ iya sayang, cepat sembuh ya. Nanti biar cepat pulang juga.” ujar mama. Aku mengangguk.
“ ma, putra mana?”
“ oh, sebentar lagi juga kesini kok.” bujuk mama. Beberapa menit kemudian, pintu kamarku terbuka, memang seperti ada yang sengaja membukanya. Yah, aku melihat rangkaian bunga, indah. Dibaliknya seperti seorang pria yang membawa bunga itu. Aku kenal, putra. Aku tersenyum senang. Dia panjang umur, baru beberapa menit yang lalu aku menanyakannya pada mama.
“pagi my sunshines,” sapanya. Aku tersenyum.
“ pagi, juga my love,” jawabku, dia tersenyum bahagia sepertinya. Aku juga bahagia. Dan hari itu, semua diruangan itu bahagia, termasuk mama papa.
******
3 hari kepulanganku dari rumah sakit. Aku benar merasa lebih baik, apakah ini efek dari sikap tegasku, memilih cinta yang pantas untukku, putra.
kring.. kring.. ponselku berbunyi, putra menelponku, segera ku angkat telponnya, aku tak sabar mendengar suaranya.
“assalamualaikum,” sapa ku riang.
“alaikum salam sunshines, nanti aku kerumah yah?”
“ hah? iyah. aku tunggu,”
Beberapa jam kemudian au mendengar klakson mobil didepan pagar rumah. Kulihat bik ani membukakan pintu, itu dia putra. Aku senang, rasanya sudah rindu sekali. Segera aku keluar, merapikan baju , dan menyambutnya. Dia membawakanku bunga, cantik sekali. Aku suka.
“ sayang ,jalan- jalan yuk?,” aku merengek manja. Aku lirik, mama hanya mengelengkan kepala, mama senang sepertinya.
“ nggak mau ! hari ini kita dirumah, kamu baru sembuh sayang,” rayu putra. Aku menurut saja. Kuperhatikan, dia berusaha mengeluarkan sebuah benda dari saku kemejanya, cincin. “Aku jadi GR,” bathinku.
“sayang, will u marry me?” ujarnya. Aku kaget, seperti melayang tinggi diudara. Baru beberapa hari kemarin aku menolaknya, ternyata putra tak patah ara. Aku senang.
“ Gak mau, gak mau nolak maksutnya.” aku tersenyum senang, dia memakaiakan cincin itu, sesekali kulirik mama. Mama tersenyum.
******
Seminggu setelah itu, kami melangsungkan sebuah akad yang hanya dilakukan satu kali seumur hidup, itu harapanku. Yah, kami menikah. Putra bersedia menerimaku, gadis yang mengidap leukimia ini. Aku bahagia.
Kukenakan gaun putih campur ungu muda. Jilbabku sangat panjang, “kamu terlihat cantik,” puji calon suamiku, putra. Hari paling menegangakan seumur hidup, aku menjadi istri. Istri dari seorang pria yang sangat kucintai. Terimakasih tuhan. Aku bahagia.
Tamat
