Aku kagum, pada matahari yang menghangatkan bumi, pada pelangi indah, walaupun warnanya tak menyentuh bumi. Hingga aku berlarian kecil, bersenandung. Aku-pun kagum, pada suara burung kicau pagi hari, pada lekuk embun lembut. Hingga aku memandangngi langit luas sembari menyeru "Aku bahagia, Tuhan". Aku benar- benar kagum.
Setiap hariku, aku berfotosintesis, bercengkrama dengan oksigen dan sinar. Tertawa terbahak bersama angin dan debu. Hingga aku larut dan terbiasa. Aku percaya pada Tuhan, kehidupan akan lebih baik dan berseri. Hingga aku terlelap, percaya dan yakin pada simbiosis yang sempurna ini. Sampai aku merasa sempurna dan sombong pada daun lain, karena aku berada disekitar kesempurnaan Tuhan.
Aku sadar, aku hanya selembar daun yang akan robek ketika angin menerpa, layu ketika air berlebih, kering ketika cahaya panas, gugur ketika musim berganti. Aku bukan siapa-siapa lagi.
"Aku hanya selembar daun kering, tanpa Ranting", iya. Tak dapat aku paksakan lagi, hingga terakhir aku harus bersyukur dan menerima. Walaupun, pernah kudengar janji hingga kita mati, tapi nyatanya memang tak ada yang abadi. Aku hanya selembar daun kering, tanpa ranting. Iya, sampai aku sadar aku bukan siapa- siapa lagi. Merekapun sama, kesempurnaan itu bukan apa- apa lagi. Hanya Tuhan-lah yang Maha sempurna, lagi Maha Kekal.
Mafruudloh's Blog
Sabtu, 15 September 2012
Minggu, 01 Januari 2012
Runtuh : penyesalan yang tak berujung
" cinta ini membodohkan aku, menutup akal sehatku", petikan lirik lagunya dirly. It's really awesome!
Sudah lama aku membangun harapan ini, seperti membangun tembok. Satu per satu, aku tata batu bata, semen, dan pasir. Agar bangunan semakin kuat, aku pilih bahan yang terbaik dari seluruh dunia. Cinta. Singkat cerita, ketika aku hendak membangun tembok untuk rumah, sekejap aku tersandung batu, merobohi tembok yang masih basah dan rapuh, keropos. Betapa menyesalnya, ketidak hati- hatianku menghancurkannya. Aku sama sekali tak menginginkan untuk terjatuh, rasanya sakit. Apalagi, sakit dan menghancurkan tembok harapan yang telak ku bangun bertahun- tahun.
Seperti memaksakan kehendak, terus menerus kubangun dan kutimbun lagi tembok yang keropos, ternyata semakin rapuh. Semakin bersalah, benar- benar tak ingin membuatnya semakin hancur dan roboh. Aku menyongkongnya, anda pasti bisa merasakan, bagaimana rasanya menyongkokng tembok dengan tangan sendiri, letih sekali. Apa boleh buat, tembok ini roboh karena aku.
Semakin letih, semakin merasakannya. Tak ingin terlampau jauh, bermalam - malam, aku memikirkannya. Baiknya bagaimana? Semacam kegalauan, yang membuat kepala pusing dan perut mual. Pikiran logis yang aku butuhkan, aku putuskan 'merobohkannya sekalian'. Tepat didepan mata ini, aku melihat tembok harapan itu hancur, runtuh berkeping dan rata dengan tananh. Sia - sia, hanya kata itu yang mengusik. Seperti malas untuk membangun sebuah tembok lagi, benar- benar tak mudah. Menjadikan mataku buta dan tak tau arah. Hanya satu harapanku yang tak bisa kusampaikan padanya, " benar perkataanmu, Tuhan lah yang memiliki rasa, mungkin rasaku untukmu sudah diambil kembali oleh-Nya", kita dijauhkan terkabul sudah doamu " ketika bukan jodoh maka jauhkanlah, dan apabila jodoh maka dekatkanlah". Kini do'amu sudah terjawab, bersenang- senanglah, berbahagialah, rasa tetap dihati, tak akan mati. Aku pun tak akan mengulangi, mencium mawar yang telah mati. Tak akan lagi, maaf.
Senin, 05 Desember 2011
Sajak - sajak Naaj Azzahra
Sajak sajak Naj Azzahra
Tanpamu
17 April 2009
Hadirmu kini hantuiku
Fatamorgana melambai pelan
Lagu rindu mengalun merdu
Meneteskannya kembali
Kosong cumbuiku malam ini
Sepi pelukku malam ini
Rindu kipas aku
Pelan dan sakit
Kadang sesal,,
Kadang kecewa,,
Kadang cemas,,
Kadang benci,,
Kadang pula aku bingung,,
Inginku kembali ,
Seperti dulu,,
Seperti janjimu,,janji kita,,
Harapku kini kau sepertiku,,
Rasakan kekosongan,
Rasakan cabikkan sepi,,
Rasakan sayatan rindu,,
Sakit sekali,,,
Tentang kita
15 maret 2009
Kurasakan lirih suara deru angin berbisik,,
Sanubari bertempur antara ego dan asa,,
Rasakan jiwa yang mulai tegar,,
Dambakan masa yang cerah tak lagi kelam,,
Ingnku ungkap,,,
Inginku ucap,,
Agar kau dengar,,
Agar kau rasakan,,
Andai kau disisi malam ini,,
Bersama,,,
Dalam malam pekat,,hening,,
Bersama bintang, bulan,dan angin,,
Ku merasa tenang,,
Ragaku terasa bangkit,,
Kau tak disisi malam ini,,
Bukan berarti cintamu mati,,
Tentang kita,,
Dulu hingga kini,,
Kurasa indah,,
Tiada kelam sepertiku lalu,,
Roman kemelaratan
20 april 2008
Gerimis turun, kucambuki diri
Menapak malam yang letih
Semakin luluh semakin perih
Ratu malam menerobos
Realita tembus pandang
Semakin menerobos
Dinding jantungku
Yang terseoh- seok lumpuh
Kobaran api yang takkan padam
Membakar sejuta impian
Hancurkan beribu harapan
Tertinggal lamunan getir
Tersisa sajak puitis yang tak berarti
Kikisan kebahagiaan
Mengendap pada baki kesunyian
Gemerlap dunia kini
Tak mengembalikan harapan
Sampai kapan….
Goresan tentang kenangan dalam lembaran
Tak terhitung banyak berapa ukiran
Tak berjudul
Sebuah roman kemelaratan
Bak tolol uzur cintha..
My story
22 january 2009
Ketika rembulan malam membuka kelambunnya,
Ketika itu pula aku bangkit,
Terasa dekapan hangat yang membuai,
Hingga jiwa ini terlelap,
Kurasa pahitnya cinta sebelumnya,
Kurasakan pula manisnya kata,
Kukenang pula memori,
Yah…memori kelabu namun terkadang ku rasa rindu,
Namun,,,
Inginku lenyapkan segalanya,,
Bathinku tersayat,,
Mengapa Setiap kata puitis lahir,,
Saat itu pula kelambu itu tertutup lalu lenyap,,
Dan hal itu terus mengalir,
sAmpai kapan berakhir,,
Sampai kapan ku bertemu sejatiku,,
Sampai kapan hatiku terus tersayat,, lemah..
Hari ini lukaku tertutup benang- benang fibrin,,
Jika langakahnya mampu menyandarkanku dalam lelap cintanya,,
Pasti jiwaku kan terasa hidup kembali,,
Namun akankan luka yang dulu kan terulang,,
Yahh…???
Aku takut terulang kembali,,
Tapi aku yakin,,
Dengannya jiwaku dan senyumku kembali menghiasi hariku,,
Dengan petikan gitar cintannya I am believe him,
My story 2
22 january 2009.
20 April 2009.
Adakah kata karma..???
Terlalu indah kurasa
Terlalu sakit ku bawa
Merasakan makna cinta tlah ku hirup dalam dalam
Hingga kini ku sadar cinta itu bukan hanya indah
Tapi perih seperti yang ku rasa
Keraguanku dulu kini terwujud
Kau hempaskanku ke jurang cinta yang lebih dalam
Sepi kelam tak seorangpun mengulurkan tangan
Kau perosokkanku, melemparku, dan meninggalkanku
Kebencianku tak mampu kembalikan cintamu ke pelukanku
Sedetik kala itu bagaikan setahun yang menyadarkanku
Terlalu hitan pandanganku
Sepiku, sakitku, perihku kini tak berarti bagimu
Menatap bahagiamu bersamanya
Meski lukaku kini teramat dalam
Ku hanya mencoba mengobati sendiri
Sendiri
Dan sendiri
Ku tau, tuhanku maha adil
Adil padaku, adil padaku,
Semua…
Memori Flamboyan
21 april 2008
Terlintas bayang semu
Dalam portal portal lembaran
Masa lalu..
Chanda… tawa…
Tak kan terkikis oleh waktu
Mengisi ruang hidupku yang kini layu
Memory flamboyan
Ku lepas segala keresahan
Teman hidup
Sampah masalahku
Jaringan tubuhku menyatu
Ku songsong hariku
Merekah merah
Bersinar cerah
Lalu mendekapnya
Minggu, 04 September 2011
Maaf, aku mencintainya (Part IV)
Sepanjang perjalanan ke Malang, putra sesekali memandang wajahku, dia khawatir. Sedangkan aku, menahan rasa pusing, sesekali juga aku tersenyum padanya. Aku mengantuk, tertidur.
******
Tak terasa, kami sudah didepan kos ku.
“ sudah bangun, sayang?” tanya putra sembari mengusap kepalaku.
“ sudah, kok aku nggak dibangunin?” tanyaku masih mengantuk.
“ aku suka, lihat kamu tidur. Cantik,”
“ ah, gombal banget. Udah ah, masuk dulu yah?” jawabku ketus.
“Iya, sayang. Makasih yah? Istirahat,” serunya.
“ iya, iya. Assalamualaikum”
“Wa alaikumsalam,” dia menjawab salamku, aku turun dari mobil, dia pun berlalu.
*****
1 Tahun kemudian..
Selama satu tahun, putra menemaniku. Aku terlanjur sayang padanya, namun sangat sulit untuk menumbuhkan rasa cinta, yah tepatnya aku belum bisa mencintainya. Kata orang jawa, trisno jalaran soko kulino, cinta itu ada karena terbiasa. Tapi kenapa aku belum bisa merasakan hal yang sama.
Kini, aku telah lulus kuliah. Aku bekerja disalah satu perusahaan ternama diJakarta. Lebih tepatnya lagi, aku dan putra sudah terpisah selama 6 bulan ini, Long Distance Relathionship. Namun, hubungan kami malah semakin dekat dan membaik. Hampir setiap jam dia menelponku, menasehati, “jangan bekerja terlalu sibuk sayang, nanti sakit.” begitulah, aku belum bisa mencintainya.
Di Jakarta ini, aku bekerja dan satu kantor dengan teman lamaku, Zaky namanya. Dulu, aku dan Zaky pernah sekolah di satu SMA. Kami pernah memiliki hubungan khusus, lebih tepatnya dia mantan pacarku. Namun, aku sudah melupakannya, rasa yang dulu ada padanya sudah hilang. Aku sudah biasa.
Namun, selama 6 bulan aku 1 kantor dengannya. Sepertinya dia masih ingin kembali kepadaku seperti beberapa tahun silam. Berkali- kali dia membicarakan masalah hubungan kami yang sudah kandas, karena kesalahannya sendiri. Dia berpaling dengan sahabatku sendiri, hancur sekali waktu itu. Dia berjanji tak akan membuatku menangis lagi, aku melihat matanya betul. Dia tulus. Namun, aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, aku tak akan kembali. Itu janjiku dulu.
****
Pagi ini, aku berencana untuk pulang ke Malang, bertemu orangtuaku, dan putra tentunya. Aku masih bingung, hubunganku dengan putra ini bukan apa- apa, tak ada status berpacaran, tunangan, atau menikah. Kami berteman, dan teman tapi mesra, yah seperti lagu saja.
kriing.. kring..kring.. telponku berdering, segera kuangkat. Nama Zaky, dia menelponku.
“ assalamualaikum?”
“ wa alaikumsalam,” jawabnya.
“ada apa mas?” tanyaku, aku terbiasa memanggilnya “mas” karena dulu dia kakak kelasku.
“ katanya mau pulang keMalang na?” tanya nya.
“iya mas, kenapa?”
“Bareng yuk? Aku juga mau pulang.” ajaknya.
“ tapi mas, aku sudah pesan tiket,” bujukku, padahal aku belum memsan tiket.
“ ah, ga papa. Nanti aku ganti. Please, bareng ya? kan lebih aman naik mobil na.” rayunya.
“ baiklah, jam 9 aku sudah siap.”
“oke na,” tut tut tut... dia menutup telpon. Aku kembali merapikan pakaian. Lalu merapikan jilbab yang kukenakan, “sangat panas disini,” gumanku.
Kring.. kring.. poselku berbunyi lagi.. Kali ini putra.
“ asaalamualikum”
“walaikum salam. Sayang sudah berangkat?” tanya nya.
“ belum, nanti jam 9,”
“ jadi naik pesawat ato bus?”
“aku di barengi teman put. Dia temen kantorku, katanya sekalian pulang juga,”
“oh, siapa?”
“ Zaky put, temen SMA dulu,” jawabku.
“ jadi naik mobil?” tanya nya penasaran.
“iya sayang,” jawabku halus menenangkannya.
“oh ya sudah, hati- hati sayang. aku tunggu”, seru nya. Lalu dia menutup telponnya.
Sudah jam 9, kelihatannya Zaky sudah menungguku diluar. Kami pun berangkat.
*****
Sangat lelah, perjalanan hampir 2 hari. Seperti biasa, aku sakit. sudah 2 hari dirumah namun aku belum menemui putra dan kawan- kawan lamaku. Masih belum sanggup berdiri. Sampai pada suatu hari, putra menelponku. Dia ingin menjengukku, Aku tak bisa menolak permintaannya. Aku meng iyakan.
Sedangkan Zaky, hampir setiap hari dia mengunjungiku dirumah, dia tau, aku mengidap penyakit leukimia dari SMA. Sebenarnya aku tak nyaman, dia mengunjungiku setiap hari. Kalau sampai putra tau, pasti dia kecewa. Tapi, aku juga tak bisa berbicara “tidak atau jangan”. Kepada siapapun. Mimisan juga tak henti keluar dari lubang hidung ku ini. Aku tak panik lagi. Ini sudah biasa.
******
Heri ini, hari yang paling menakutkan bagiku. Putra akan kesini. Aku sempat menyesal, membiarkannya datang. Tapi, aku paling tak bisa berucapa “iya atao jangan” kepada orang lain. Terserah, lihat nanti saja. Aku belum mencintainya, aku takut putra akan sakit hati.
****
Putra datang, apa? Dia membawa orangtuanya, membawa bawaan yang sangat banyak. Aku biasa melihat ini, ketika teman atau keluargaku dilamar pria. Apakah aku akan dilamarnya? Aku takut. Aku masih dikamar, belum mempersiapkan apapun. Mamaku mengetuk pintu.
“sayang, Nana. Diluar ada tamu, ayo keluar nak<” teriak mama dari luar kamar.
“Ma masuk aja, aku pusing,” pintaku. Mama pun segera masuk kamar, menuntunku mempersiapkan diri, gantai baju, dan mengenakan jilbab hijau.
“Kamu masih sakit sayang?” tanya mama
“ tinggal pusing doang ma,” bujuk ku
Aku keluar kamar, aku melihat putra, ummi ,dan abi duduk disofa. Mereka tersenyum tapi heran. Aku melihat mata mereka, persis ingin menanyakan sesuatu “ kamu sakit?”. Aku meihat putra, dia terlihat lebih bersih, setelah 6 bulan tak bertemu. Aku melihat, rindu dimatanya. “Aku juga rindu,” batinku.
“assalamualaikum,” aku menyapa mereka. Sembari duduk, mama membantuku. Hari ini papaku ada dinas diluar kota, jadi mama lah yang membantuku hari ini.
“ waalaikum salam,” jawab mereka.
“Ummi, abi, putra, bagaimana kabarnya?” tanyaku, mencairkan suasana.
“ alhamdulilah baik nak,kamu sakit?” tanya abi. Lalu mamaku menyahut pertanyaan , mama menceritakan segalanya. Aku mengidap penyakit leukimia sejak SMA. Aku ingin menangis, tapi aku tak ingin membuat suasana ini haru. Aku melihat putra, mata nya sendu, seperti ingin memelukku. Aku hanya bisa mendunduk, sakit.
Lalu, abi mencairkan suasana, mengajak kami bercanda. Tak lama papa datang, mereka saling berekenalan. Lalu berbincang, membicarakan tujuan mereka datang kerumahku. Aku sangat grogi, aku takut. Ternyata benar dugaanku. Dia melamarku.
“ kalau, itu teserah anak saya saja pak.” ujar papaku, sembari menatapku. Berharap menjawab “iya atau tidak”. Aku diam. Aku melihat putra lagi, dia berharap menjawab “iya”.
"Maaf, aku belum bisa menerima pinangan mu", jawabku singkat. Aku pusing, kunang- kunang berterbangan, gelap. Aku pingsan.
Sepertinya, Leukimia ini semakin menyerang tubuhku saja. Aku dilarikan disebuah rumah, penuh obat, aku membenci ini. Yah, aku dilarikan ke rumah sakit. Aku tak sadar.
“ Mama,” aku merintih. Kulihat samar, Orangtuaku menangis, aku anak tunggal mereka, aku harus bertahan. Kulihat disamping kananku, putra. Dia menangis, aku tak tega. Dia menggenggam tanganku kuat- kuat. Mamaku mengusap kepalaku, dia juga menangis.
“ aku tak apa,” kucoba membuka mulut, tersenyum, menenangkan mereka. Aku berusaha bangun dari ranjang sakit ini, aku belum kuat. Masih terasa pusing.
“ sayang, harus kuat ya?,” pinta putra, wajahnya melas sekali, aku tak tega. Kulihat disofa samping ranjangku, Zaky juga ada disini. Dia hanya menunduk pilu. Tuhan, aku semakin sakit hati melihat mereka menangis. Aku harus kuat. Dadaku sesak, kenapa penyakit ini semua datang disaat yang tak tepat ini. Tuhan, tolong aku.
Aku baru saja menolak pinangan putra, tapi mengapa dia masih kemari? mengapa dia tak membenciku. Tuhan, jangan biarkan aku mencintainya. Aku kasiha, galau, dan bimbang.
Sementara ku lihat Zaky, dia masih menunduk. Aku tak kuasa memanggil namanya, benar- benar kasihan. Aku pusing sekali. Kupejamkan mata, darah keluar dari hidungku lagi. Sangat sakit rasanya, mama berteriak memanggil dokter, aku mendengarnya samar- samar. Tangan dingin itu mengenggam tanganku, yah putra. Aku bisa merasaknnya. Aki pingsan lagi.
*****
“mama,” aku rindu mama.
“ iya sayang, alhamdulilah kamu siuman,” ujar mama. Aku berusaha membuka mata, kulihat sekelilingku. Hanya ada mama, dan seorang pria, Zaky. Aku tersenyum padanya. Dia datang, dan mengenggam tanganku.
“ Nana, sudah sadar?’ tanya zaky.
“ iya,” tak ada gairah menjawab pertanyaannya.
“ Na, I love u,” ujar zaky, mamaku keluar ruangan, membiarkan kami berbincang. Aku malas berkata. Dimana putra.
“ bertahan ya Na?,” ujar nya lagi.
“ Maaf, aku mencintainya.” singkat ku ucap hari itu. Aku tau, sangat sakit. Zaky pun berlalu, meninggalkanku sendiri di ruangan ini.Aku tau, dia mengerti apa maksut ucapanku.
Aku tak mau memperpanjang beban fikiranku lagi. Aku putuskan, aku mencintai putra. Aku ingin bertemu dengannya.
*****
Seperti biasa, ketika pagi di rumah obat ini, aku mendengar suara ambulance dan roda yang hilir mudik, bingung. Namun, aku merasa kondisi tubuhku membaik. Papa dan Mama menyapaku,
“selamat pagi, sunshines,” ujar mama papa. Aku tersenyum. Itu sapaan yang biasa diucapkan putra, ketika menelponku dipagi hari.
“ma, pulang ma,” aku merengek, benar- benar tak betah ditempat ini.
“ iya sayang, cepat sembuh ya. Nanti biar cepat pulang juga.” ujar mama. Aku mengangguk.
“ ma, putra mana?”
“ oh, sebentar lagi juga kesini kok.” bujuk mama. Beberapa menit kemudian, pintu kamarku terbuka, memang seperti ada yang sengaja membukanya. Yah, aku melihat rangkaian bunga, indah. Dibaliknya seperti seorang pria yang membawa bunga itu. Aku kenal, putra. Aku tersenyum senang. Dia panjang umur, baru beberapa menit yang lalu aku menanyakannya pada mama.
“pagi my sunshines,” sapanya. Aku tersenyum.
“ pagi, juga my love,” jawabku, dia tersenyum bahagia sepertinya. Aku juga bahagia. Dan hari itu, semua diruangan itu bahagia, termasuk mama papa.
******
3 hari kepulanganku dari rumah sakit. Aku benar merasa lebih baik, apakah ini efek dari sikap tegasku, memilih cinta yang pantas untukku, putra.
kring.. kring.. ponselku berbunyi, putra menelponku, segera ku angkat telponnya, aku tak sabar mendengar suaranya.
“assalamualaikum,” sapa ku riang.
“alaikum salam sunshines, nanti aku kerumah yah?”
“ hah? iyah. aku tunggu,”
Beberapa jam kemudian au mendengar klakson mobil didepan pagar rumah. Kulihat bik ani membukakan pintu, itu dia putra. Aku senang, rasanya sudah rindu sekali. Segera aku keluar, merapikan baju , dan menyambutnya. Dia membawakanku bunga, cantik sekali. Aku suka.
“ sayang ,jalan- jalan yuk?,” aku merengek manja. Aku lirik, mama hanya mengelengkan kepala, mama senang sepertinya.
“ nggak mau ! hari ini kita dirumah, kamu baru sembuh sayang,” rayu putra. Aku menurut saja. Kuperhatikan, dia berusaha mengeluarkan sebuah benda dari saku kemejanya, cincin. “Aku jadi GR,” bathinku.
“sayang, will u marry me?” ujarnya. Aku kaget, seperti melayang tinggi diudara. Baru beberapa hari kemarin aku menolaknya, ternyata putra tak patah ara. Aku senang.
“ Gak mau, gak mau nolak maksutnya.” aku tersenyum senang, dia memakaiakan cincin itu, sesekali kulirik mama. Mama tersenyum.
******
Seminggu setelah itu, kami melangsungkan sebuah akad yang hanya dilakukan satu kali seumur hidup, itu harapanku. Yah, kami menikah. Putra bersedia menerimaku, gadis yang mengidap leukimia ini. Aku bahagia.
Kukenakan gaun putih campur ungu muda. Jilbabku sangat panjang, “kamu terlihat cantik,” puji calon suamiku, putra. Hari paling menegangakan seumur hidup, aku menjadi istri. Istri dari seorang pria yang sangat kucintai. Terimakasih tuhan. Aku bahagia.
Tamat
Sabtu, 03 September 2011
Maaf, aku mencintainya (part III)
Tin.. tin...tin..
Sangat keras putra membunyikan klakson mobilnya. Aku melihat seorang wanita paruh baya bergegas keluar , menjinjing rok yang ia pakai agar mudah melangkah, dan membuka gerbang rumah itu. Halaman yang indah, taman yang hijau, inikah rumahnya?
“makasih bik, umi ada kan?,” lontar putra kepada wanita itu, mungkin dia pembantu dirumah ini, atau saudaranya.
“ iya mas, ayo monggo. Sudah ditunggu ibu dari kemaren. Eh, itu ya mbak calonnya mas?,” celoteh wanita itu. Lalu aku berfikir, calon? apa maksutnya? Aku hanya bisa membalas senyum kepada wanita itu, sembari menganggukan kepala.
“ monggo bik,” jawab putra, bergegas dia meyetir mobil masuk ke halaman depan. Hatiku risau, otakku berfikir keras, apa maksut ucapan wanita tadi.
******
Jujur, aku tak berani masuk. Aku sadar, aku dan putra hanya teman dekat yang baru kenal, tapi kenapa aku merasa ini sudah mendekati keseriusan? Aku ingin marah, menangis, aku takut. Aku tau, selama 1 bulan ini putra sangat baik, benar- benar menjagaku. Apapun yang kuminta, pasti dia beri, pasti dituruti. Ucapan sayang dan cinta sudah berkali- kali diucapkannya, aku hening belum bisa menjawabnya. Namun sepertinya ia tak patah ara, setiap hari sayang dan cintanya memasuki hatiku. Jujur, namun aku belum bisa menjawab iya atau tidak. Seperti ruangan kosong yang tak ber penghuni, lalu dia masuk, dan membersihkan ruangan yang kotor yang berdebu itu, sampai menjadi ruangan yang nyaman untuk ditempati. Yah, ruangan itu aku, dan penghuni baru itu putra. Aku menyayanginya.
“Sayang?,” dia memecahkan lamunanku, memegang pipiku dengan lembut.
“iya, sorry.” jawabku kaget, dia membuka kan pintu mobil, menggandengku masuk ke rumah. Aku melihat sepasang suami istri duduk di ruang tamu itu, mereka tersenyum ramah, menyambut kami datang. Aku tersenyum. Sambil tetap menggandeng tanganku, putra memperkenalkanku pada pasangan suami istri itu, mereka orang tua putra.
“asslamualaikum,” ucap putra.
“ waalaikum salam, akhirnya datang juga kalian, ayo monggo masuk,” ucap abah. Kami bersalaman dengan mereka, ummi memelukku, mencium keningku sangat tulus.
“duduk dulu sayang,” ucap putra mempersilahkanku.
Sambil terus memberi senyuman kepada mereka, aku belum berani berkata. Kami bercerita, dan mereka bertanya sangat banyak tentang kehidupanku. Orang tua, kuliah, sahabat, dan lain sebagainnya. Begitupula sebaliknya, Putra anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya teman sekelasku, Ari namanya. Bathinku, seperti tes interview saja, aku meringis dalam hati. Hingga pada akhirnya..
“ kalian cocok,” tutur ummi. Aku kaget sekali mendengar ucapan ummi, aku hanya tersenyum dan menunduk. Putra menggenggam tanganku lagi, memastikan orang tuanya bahwa kami memang sangat cocok. Keringat pun mengalir dibalik jilbab ungu yang ku kenakan, aku grogi.
Setelah bincang- bincang singkat itu, bik ani mengantarku ke kamar tamu. Putra mengajak menginap semalam dirumahnya, agar lebih mengenal suasana rumah jelasnya. Aku turuti permintaannya, lagi pula selama ini dia sangat baik kepadaku. Besok sore kami kembali ke Malang, kota tempat dia bekerja, dan kota tempatku kuliah.
*******
Hawa malam disini tak sedingin di Malang, hangat. Kubuka jendela kamar, sangat sepi diluar sana. Aku hanya mendengar suara musik, samar- samar, mungkin dari ruang tengah. Aku masih sangat enggan untuk menampakkan diri di rumah ini, ku habiskan waktu sehari hanya dikamar ini. Tiba- tiba ponselku berbunyi.... kring.. kring.. Segera kuangkat, putra menelpon, ada apa? padahal kamar kami bersebelahan.
“ Na, keluar yuk?,” pintanya manja.
“ kemana?,” sambil ku lihat jam tanganku, ternyata baru jam 7 malam. Aku menurutinya. Kami keluar, jalan- jalan. Kebetulan ada pasar malam, kami pun kesana. Bermain komedi putar, makan harum manis, dan berbelanja aksesoris. Senang sekali, sudah lama aku tak berkunjung ke tempat seperti ini. Terakhir kali kelas 6 SD dulu, sudah 9 tahun.
“ aku senang put,” teriakku, suaraku samar, terkalahkan oleh suara- suara musik disekitar tempat ini.
“ aku juga senang sayang,” teriaknya, dia menggenggam tanganku, mengusap kepalaku.
Kami berjalan- jalan, bertemu banyak orang, sepertinya putra mengenali mereka.
“ putra, kapan datang?” tanya seorag pria, mungkin tetangga atau teman sekolahnya.
“ tadi siang boy, tambah keren aja loe !” celetuk putra, aku hanya diam , memberi senyuman kepada pria itu.
“ halah elu, siape ni? calon ya?”
“ iya, kenalin. Ini calon gue, nana.” celetuk putra. Aku pun menjabat tangan pria tersebut, “nana,” aku tersenyum lagi.
Putra berbincang sebentar dengan pria itu, aku berlalu, berjalan melihat- lihat boneka yang terpajang. Lucu- lucu, walaupun aku sudah sebesar ini, aku masih suka mengkoleksi boneka, maklum pengaruh anak tunggal yang identik dimanja. Banyak sekali boneka dikamarku, aku ingin membelinya lagi.
Sempat kupegang boneka berbulu lembut ini, lucu.
“Sayang?” putra mengagetkanku lagi. Dia membawa boneka , persis seperti yang aku inginkan tadi.
“iya, ngagetin ah,” jawabku ketus.
“buat kamu,” dia menyodorkan boneka itu, aku senang, sangat senang.
Sepertinya sudah sangat malam, putra takut aku kelelahan lagi, dia mengajakku pulang ke rumahnya. Aku heran kenapa dijalan ini terasa sangat dingin, nafasku sesak, padahal kami mengendarai mobil. Tuhan, aku ingat, penyakit asmaku. Segera kuraih tas di kursi belakang, mencari inhaler yang sudah kupersiapkan ketika aku akan keluar malam.
“ cari apa sayang?,” tanya putra heran, aku pun menggelengkan kepala, menahan rasa sesak, dan tanganku terus merogoh- rogoh isi tasku, akhirnya ketemu. Segera kusemprotkan kedalam mulut, ah lega sekali.
Ciiiiiiiiiiiiiittt... putra menghentikan mobilnya, dia khawatir, memelukku.
“sayang, sakit?” tanyanya bingung.
“ enggak sayang, I am fine,” jawabku mengelengkan kepala. Aku memanggilnya sayang, yah, aku juga menyayanginya. Dia mengusap kepalaku, aku melihat matanya, dia khawatir.
“ jalan lagi yuk? biar cepat sampai rumah,” rayu ku menenangkannya, isyarat, aku tak apa- apa. Pelan dia menyetir, masih menggenggam tanganku.
******
Pagi ini aku packing, jam 8 kami kembali ke kota Malang. Aku keluar kamar. Melihat ummi memasak didapur, aku membantunya. Kami berbincang panjang dan bercanda. Ummi tak punya anak perempuan, sepertinya ummi sangat menyukaiku. Pipiku sering terkena cubitan sayangnya, lalu kami tertawa lagi.
“ Nana, tolong jagain Putra ya? Walaupun sudah besar begitu, dia paling susah kalau disuruh makan,” ucap umi, sembari memotong kentang.
“ hmm,, iya ummi, insya Allah,” jawabku meng-iyakan. Sebenarnya aku belum faham betul kepribadian putra, kebiasaan, dan kesukaannya apa. Aku belum ingin tau, tepatnya. Dengan jawaban ini, ummi terlihat lega dan tersenyum.
******
Jam 8 tepat kami berpamitan, seperti biasa umi mencium keningku, mentapku berharap akan mampir kerumah ini lagi, dan menjadi keluarga disini. Aku haru. Aku juga bersalaman dengan abi, tatapannya sama persis dengan ummi. Kemudian, putra menggandengku masuk mobil, aku menurutinya.
Aku mengerti, orangtua putra mungkin mengharapkan putra untuk cepat- cepat menikah. Namun aku masih bingung, mengapa aku yang dipilihnya, padahal kami baru dekat sekitar 1 atau 2 bulan. Aku juga sadar, aku masih kuliah semster akhir. Aku harus fokus pada skripsi, pekerjaan, dan organisasiku. Belum terfikirkan duduk diatas singgasana pengantin. Aku juga sudah janji kepada orang tuaku, aku akan menikah setelah bekerja.
“sayang, kok ngelamun?” tanya putra, sembari menyetir mobil.
“hah, enggak kok. Ganggu khayalanku aja,” jawabku ketus.
“ hayoo? menghayal apa emangnya?”
“rahasia dong,” aku meringis, berteriak, dia mencubit pipiku, sakitnya.
Selama perjalan itu, kami terus bercanda. Sesekali dia mencubit pipiku lagi, lalu aku memakinya. Begitu seterusnya. Namun, kelihatannya kondisi tubuh tak pernah bisa diajak kompromi, kepalaku pusing sekali. Entah kenapa, disaat aku senang seperti ini, tubuhku berontak. Aku sakit.
Memang penyakit Leukimia ini sudah menghampiriku sekitar 5 tahun lalu, ketika aku kelas 1 SMA. Mulai saat itu, aku disarankan untuk tidak melakukan banyak kegiatan. Namun, aku sering melanggarnya. Aku bosan berdiam diri, aku percaya tuhan. Kematian ada ditangan-Nya. Minimal aku sudah berusaha mengisi kehidupanku dengan berbagai hal- hal yang bermanfaat untuk orang lain. Hanya itu.
Aku ingin merintih, tapi aku tak ingin membuat putra khawatir.Sangat pusing, hidungku sepertinya berair, ku usap perlahan. Ya Tuhan, aku mimisan.
Ciiiiiiiiiiiiit...
Putra mengerem mobil mendadak, mengeluarkan sapu tangannya, lalu mengusap darah yang mengalir ini. Aku tau, dia terlihat panik.
“Sayang, sakit lagi? ke rumah sakit yah?” tawarnya halus, sembari menyeka darah yang terus keluar. Aku hanya bisa menggelengkan kepala, sangat pusing. Aku tak tau, sampai kapan aku merepotkan putra dengan penyakitku ini? Aku belum siap menceritakannya. Aku tak tega.
Bersambung......
Jumat, 02 September 2011
Maaf, aku mencintainya (part II)
Matahari di ufuk barat sudah tak nampak lagi, adzan magrib menyeru betapa merdunya, aku lelah. Perjalanan dari kota ke rumah orang tua putra sekitar 5 jam, padahal aku hanya duduk diam dimobil. Hatiku tak karuan, kali ini kami mampir ke masjid Agung dulu, sholat magrib. Rasanya aku sudah lemas, selesai sholat aku tak kuat untuk berjalan, berdiri pun susah. Rasanya banyak sekali kunang- kunang berterbangan dimataku ini, ah pusing seperti ada gempa saja.
Bruuuuk...!!!! Aku pingsan, hanya mendengar langkah jama’ah putri menghampiriku yang sudah tak berdaya, setelah itu aku tak tau apa- apa lagi.
“alhamdulilah,” aku mendengar suara putra, kucoba membuka kelopak mata, berat rasanya, sakit sekali. Aku masih belum mampu mengeluarkan suara, sakit. Banyak sekali pertanyaan di otakku ini, dimana aku? Hidungku serasa ditusuk garpu saja, bau obat dimana- mana, aku benci.
“dimana aku?” kucoba mengeluarkan suara.
“ dirumah sakit, na. Maaf, aku membuatmu lelah sampai kamu sakit seperti ini, maaf,” berkali- kali putra mengucap maaf, namun aku rasa dia bukan penyebabnya.
“ oh, ayo pulang saja. Aku sudah tak apa,” kucoba bangun, tapi aku jatuh lagi. Masih sangat terasa, waktu itu putra menggendongku, aku payah.
“ sudah na, jangan dipaksa. Aku akan menjagamu.” jawabnya menenangkanku, aku tertidur.
*******
Kudengar bising ambulance, langkah orang kesana- kemari. Aku bangun, putra masih menggenggam tanganku, dia masih tertidur dikursi samping ranjangku, merebahkan kepalanya saja diranjang. Aku merasa kasihan, yah aku merepotkannya. Aku usap kepalanya pelan, namun aku tak tega membangunkannya, dia terlihat lelah, sangat lelah.
“ eh Na, sorry. Kamu udah sadar?,” putra bangun, dia menggenggam tanganku lagi.
“ alhamdulilah, bangun put. Sholat shubuh.” lontar ku, sembari mengangkat kepala dan bangun.
“ iya sayang,” ucapnya. Tersenyum manis dan berlalu meninggalkan ku sendiri di ruangan itu. Dia memanggilku sayang, “ah, jangan besar kepala dulu,” bisikku dalam hati.
Sangat sepi diruangan ini sendiri, bau obat- obat ini lama- lama bisa membuatku mati, pusing sekali. Kucoba mengangkat tubuh, aku bisa. Mencari kursi roda, karena aku belum bisa berjalan sendiri, masih pusing sekali. Taman diluar sana indah, aku ingin kesana.
*******
Sangat ramai di taman ini, namun damai dan nyaman. Angin segar, bunga yang indah, aku suka. Aku baru teringat Leukimia yang kuderita, jangan- jangan? Aku risau, aku takut putra mengetahuinya.
“sayang,” seseorang menepuk bahuku.
“putra,” ku jawab simple, ku beri dia senyuman.
“ kata dokter hari ini sudah boleh pulang kok. Nanti jam 10, siap- siap yuk? nanti langsung ke rumah Abah sama Umi, mereka sudah menunggu kita,” paparnya. Aku sedikit lega, sepertinya ini bukan gara- gara leukimia, atau dia berpura- pura tak tau? Kami pun bergegas meninggalkan taman, segera bersiap, dia membantuku.
Setelah packing, kami bergegas menuju rumah orang tua putra. Sngat baik, selama perjalanan putra menghiburku, aku senang.
bersambung......
Maaf, aku mencintainya (Part 1)
"Maaf, aku belum bisa menerima pinangan mu", jawabku singkat. Yah, malam itu seorah pria mapan datang ke rumah, melamar, dan mengajak kepada kebaikan (menikah). Dia pria sempurna, tampan, mapan, berilmu, dan dari keluarga baik- baik. Namun, aku baru mengenalnya sekitar 2 bulan lalu. Ceritanya sangat panjang dan rumit, biarkan aku bercerita.
Putra, begitulah sapaan pria itu. Kami bertemu 1 bulan yang lalu, dari salah satu rekanku yang kebetulan saudara kandungnya. Kami dipertemukan disebuah seminar nasional di kota tempatku kuliah. Kini aku baru semester 5, namun pria itu sudah sangat mapan, dan baik. Kami berjabat tangan, dan aku masih ingat betul bagaimana kalimatnya ketika berkenalan, " putra ganteng," sapanya memperkenalkan diri,
"nana," jawabku singkat sembari tertawa kecil melihat tingkah kocaknya.
Lalu kami berbincang – bincang kecil, dia sering membuatku tertawa terbahak. Aku bercerita masalah organisasi dan kuliah, sedangkan dia bercerita tentang dunia kerjanya yang sangat “nyaman” itu. Baru 3 jam kami berbincang, serasa sudah 2 bulan kita kenal, sangat akrab, dan nyaman.
“Na, aku pamit pulang dulu, aku minta nomor hape boleh kan?”, tanya putra sembari menggaruk kepala, terlihat sungkan.
“Oh, iya put.” aku pun menyodorkan kartu nama, lalu kami berpisah.
*****
Seperti biasa , aku menghabiskan waktuku untuk kuliah, organisasi, dan kerja partime dikampus. Rasa lelah dan penat dengan kesibukan sering terjadi, tapi inilah hidup. Aku juga sadar, pasti kehidupan setelah kuliah akan lebih keras dari pada kehidupanku yang sekarang. Sambil menenangkan fikiran, aku nyalakan televisi di kamar kosku.
Kring.. kring.. kring..
ponselku berbunyi, aku kaget dan lamunanku pecah begitu saja. Kulihat layar ponsel tak ada nama, “siapa?”, tanyaku dalam hati dan segera ku pencet tombol hijau.
“assalamualaikum?,”
“waalaikum salama, nana,” jawabnya. Dia tau namaku dan ini suara pria yang sepertinya aku kenal, aku penasaran.
“siapa,maaf,”
“kenalin, putra ganteng,” jawabnya. Ternyata putra, teman seminar kemarin, aku pun langsung ngakak, dan kami-pun bercanda lewat telepon itu.
Selesai percakapan itu aku berfikir, siapa dia? sehingga membuatku galau seperti ini. Yah, putra dia mengajak ku kerumah orang tuanya besok. Susah payah aku membuang pikiran negatif yang melekat diotakku ini, namun tak kunjung pecah juga. Sekuat hati aku menidurkan perasaan, tapi tetap saja galau, aku takut.
******
Esoknya putra menjemputku dikampus, tepat jam 10 pagi. Aku baru saja menyelesaikan ujian salah satu mata kuliah, otak ku masih terasa capek. Aku juga belum mempersiapkan apapun untuk menyapa keluarga teman baruku, putra. Aku buka siapa- siapa, hanya teman baru yang bertemu 1 minggu lalu disebuah seminar itu. “Ah, mungkin saja dirumahnya ada acara, lalu aku diundang,” fikirku menenangkan diri.
Dia datang, memecahkan suasana hati yang berkecamuk ketakutan ini. Sepertinya dia menegrti aku yang ada di otakku ini. Tingkah konyol itu terlihat lagi, kami bercanda di dalam mobil. Sampai dia mungkin ter-ceplos bertanya, “na, punya pacar?”, aku kaget dan diam, yah, kucawab dengan senyuman, dia faham. Kami terdiam sejenak, lalu dia melontarkan, “ namanya juga anak muda na, have fun, dan bersaing! haha,” di tertawa, apa maksutnya? Aku bingung. Aku hanya takut dia salah menafsirkan senyumanku.
Langganan:
Komentar (Atom)