Sabtu, 15 September 2012

Aku Hanya Selembar Daun Kering, Tanpa Ranting

Aku kagum, pada matahari yang menghangatkan bumi, pada pelangi indah, walaupun warnanya tak menyentuh bumi. Hingga aku berlarian kecil, bersenandung. Aku-pun kagum, pada suara burung kicau pagi hari, pada lekuk embun lembut. Hingga aku memandangngi langit luas sembari menyeru "Aku bahagia, Tuhan". Aku benar- benar kagum.
Setiap hariku, aku berfotosintesis, bercengkrama dengan oksigen dan sinar. Tertawa terbahak bersama angin dan debu. Hingga aku larut dan terbiasa. Aku percaya pada Tuhan, kehidupan akan lebih baik dan berseri. Hingga aku terlelap, percaya dan yakin pada simbiosis yang sempurna ini. Sampai aku merasa sempurna dan sombong pada daun lain, karena aku berada disekitar kesempurnaan Tuhan.
Aku sadar, aku hanya selembar daun yang akan robek ketika angin menerpa, layu ketika air berlebih, kering ketika cahaya panas, gugur ketika musim berganti. Aku bukan siapa-siapa lagi.
"Aku hanya selembar daun kering, tanpa Ranting", iya. Tak dapat aku paksakan lagi, hingga terakhir aku harus bersyukur dan menerima. Walaupun, pernah kudengar janji hingga kita mati, tapi nyatanya memang tak ada yang abadi. Aku hanya selembar daun kering, tanpa ranting. Iya, sampai aku sadar aku bukan siapa- siapa lagi. Merekapun sama, kesempurnaan itu bukan apa- apa lagi. Hanya Tuhan-lah yang Maha sempurna, lagi Maha Kekal.