" cinta ini membodohkan aku, menutup akal sehatku", petikan lirik lagunya dirly. It's really awesome!
Sudah lama aku membangun harapan ini, seperti membangun tembok. Satu per satu, aku tata batu bata, semen, dan pasir. Agar bangunan semakin kuat, aku pilih bahan yang terbaik dari seluruh dunia. Cinta. Singkat cerita, ketika aku hendak membangun tembok untuk rumah, sekejap aku tersandung batu, merobohi tembok yang masih basah dan rapuh, keropos. Betapa menyesalnya, ketidak hati- hatianku menghancurkannya. Aku sama sekali tak menginginkan untuk terjatuh, rasanya sakit. Apalagi, sakit dan menghancurkan tembok harapan yang telak ku bangun bertahun- tahun.
Seperti memaksakan kehendak, terus menerus kubangun dan kutimbun lagi tembok yang keropos, ternyata semakin rapuh. Semakin bersalah, benar- benar tak ingin membuatnya semakin hancur dan roboh. Aku menyongkongnya, anda pasti bisa merasakan, bagaimana rasanya menyongkokng tembok dengan tangan sendiri, letih sekali. Apa boleh buat, tembok ini roboh karena aku.
Semakin letih, semakin merasakannya. Tak ingin terlampau jauh, bermalam - malam, aku memikirkannya. Baiknya bagaimana? Semacam kegalauan, yang membuat kepala pusing dan perut mual. Pikiran logis yang aku butuhkan, aku putuskan 'merobohkannya sekalian'. Tepat didepan mata ini, aku melihat tembok harapan itu hancur, runtuh berkeping dan rata dengan tananh. Sia - sia, hanya kata itu yang mengusik. Seperti malas untuk membangun sebuah tembok lagi, benar- benar tak mudah. Menjadikan mataku buta dan tak tau arah. Hanya satu harapanku yang tak bisa kusampaikan padanya, " benar perkataanmu, Tuhan lah yang memiliki rasa, mungkin rasaku untukmu sudah diambil kembali oleh-Nya", kita dijauhkan terkabul sudah doamu " ketika bukan jodoh maka jauhkanlah, dan apabila jodoh maka dekatkanlah". Kini do'amu sudah terjawab, bersenang- senanglah, berbahagialah, rasa tetap dihati, tak akan mati. Aku pun tak akan mengulangi, mencium mawar yang telah mati. Tak akan lagi, maaf.