Sabtu, 15 September 2012

Aku Hanya Selembar Daun Kering, Tanpa Ranting

Aku kagum, pada matahari yang menghangatkan bumi, pada pelangi indah, walaupun warnanya tak menyentuh bumi. Hingga aku berlarian kecil, bersenandung. Aku-pun kagum, pada suara burung kicau pagi hari, pada lekuk embun lembut. Hingga aku memandangngi langit luas sembari menyeru "Aku bahagia, Tuhan". Aku benar- benar kagum.
Setiap hariku, aku berfotosintesis, bercengkrama dengan oksigen dan sinar. Tertawa terbahak bersama angin dan debu. Hingga aku larut dan terbiasa. Aku percaya pada Tuhan, kehidupan akan lebih baik dan berseri. Hingga aku terlelap, percaya dan yakin pada simbiosis yang sempurna ini. Sampai aku merasa sempurna dan sombong pada daun lain, karena aku berada disekitar kesempurnaan Tuhan.
Aku sadar, aku hanya selembar daun yang akan robek ketika angin menerpa, layu ketika air berlebih, kering ketika cahaya panas, gugur ketika musim berganti. Aku bukan siapa-siapa lagi.
"Aku hanya selembar daun kering, tanpa Ranting", iya. Tak dapat aku paksakan lagi, hingga terakhir aku harus bersyukur dan menerima. Walaupun, pernah kudengar janji hingga kita mati, tapi nyatanya memang tak ada yang abadi. Aku hanya selembar daun kering, tanpa ranting. Iya, sampai aku sadar aku bukan siapa- siapa lagi. Merekapun sama, kesempurnaan itu bukan apa- apa lagi. Hanya Tuhan-lah yang Maha sempurna, lagi Maha Kekal.

Minggu, 01 Januari 2012

Runtuh : penyesalan yang tak berujung

" cinta ini membodohkan aku, menutup akal sehatku", petikan lirik lagunya dirly. It's really awesome!
Sudah lama aku membangun harapan ini, seperti membangun tembok. Satu per satu, aku tata batu bata, semen, dan pasir. Agar bangunan semakin kuat, aku pilih bahan yang terbaik dari seluruh dunia. Cinta. Singkat cerita, ketika aku hendak membangun tembok untuk rumah, sekejap aku tersandung batu, merobohi tembok yang masih basah dan rapuh, keropos. Betapa menyesalnya, ketidak hati- hatianku menghancurkannya. Aku sama sekali tak menginginkan untuk terjatuh, rasanya sakit. Apalagi, sakit dan menghancurkan tembok harapan yang telak ku bangun bertahun- tahun.
Seperti memaksakan kehendak, terus menerus kubangun dan kutimbun lagi tembok yang keropos, ternyata semakin rapuh. Semakin bersalah, benar- benar tak ingin membuatnya semakin hancur dan roboh. Aku menyongkongnya, anda pasti bisa merasakan, bagaimana rasanya menyongkokng tembok dengan tangan sendiri, letih sekali. Apa boleh buat, tembok ini roboh karena aku. 
Semakin letih, semakin merasakannya. Tak ingin terlampau jauh, bermalam - malam, aku memikirkannya. Baiknya bagaimana? Semacam kegalauan, yang membuat kepala pusing dan perut mual. Pikiran logis yang aku butuhkan, aku putuskan 'merobohkannya sekalian'. Tepat didepan mata ini, aku melihat tembok harapan itu hancur, runtuh berkeping dan rata dengan tananh. Sia - sia, hanya kata itu yang mengusik. Seperti malas untuk membangun sebuah tembok lagi, benar- benar tak mudah. Menjadikan mataku buta dan tak tau arah. Hanya satu harapanku yang tak bisa kusampaikan padanya, " benar perkataanmu, Tuhan lah yang memiliki rasa, mungkin rasaku untukmu sudah diambil kembali oleh-Nya", kita dijauhkan terkabul sudah doamu " ketika bukan jodoh maka jauhkanlah, dan apabila jodoh maka dekatkanlah". Kini do'amu sudah terjawab, bersenang- senanglah, berbahagialah, rasa tetap dihati, tak akan mati. Aku pun tak akan mengulangi, mencium mawar yang telah mati. Tak akan lagi, maaf.